Perempuan Ini Pasrah Meski Keguguran Ketika Kiprah Pemilu 2019



Solusi Kita - Pemilu 2019 telah usai. Tapi pesta demokrasi serentak itu tak kan pernah dilupakan pasangan muda ini. Bahkan mungkin sepanjang hidupnya.



Pasangan yang dimaksud yakni Lupnatul Hairoh (20) dan Muhammad Abdul Fawaid (22). Warga Desa Gunungsari, Kecamatan Maesan, Bondowoso ini harus memupuskan impiannya untuk segera mempunyai momongan. Lupnatul keguguran. 

Pupusnya harapan itu bermula ketika proses pemungutan bunyi Pemilu 2019 digelar, 17 April lalu. Lupnatul menerima mandat sebagai anggota KPPS dan bertugas di TPS 10, desa setempat.

Saat pencoblosan surat bunyi berlangsung, tak ada hal abnormal dirasa pada perutnya yang memang tengah hamil empat bulan. Ia pun bertugas normal. Tapi ketika tahapan penghitungan suara, barulah Lupnatul mencicipi keganjilan. Dia mencicipi perutnya sakit luar biasa.




Meski begitu, Lupnatul tidak beristirahat. Dia tetap melanjutkan tugasnya alasannya yaitu personel di KPPS itu memang terbatas. Sehingga tak ada orang yang menggantikannya. Rasa sakit dikesampingkan hingga penghitungan bunyi Pilpres usai.


"Begitu ada jeda waktu sedikit, saya minta izin untuk ke kamar mandi. Ternyata, saya mengalami pendarahan kendati tak banyak," kenang Lupnatul, ketika ditemui detikcom di rumahnya, Sabtu (27/4/2019). 


Lupnatul yang ditemani suaminya Abdul Fawaid lebih lanjut menceritakan, meski sudah tahu dirinya mengalami pendarahan serta kondisi perut sakit, ia tetap melanjutkan tugasnya. Saat proses penghitungan suara, Lupnatul memang kebagian kiprah sebagai pelipat kertas surat suara.

"Tugas itu memang memaksa saya harus berdiri. Padahal, perut rasanya sakit luar biasa. Jika sudah tak kuat nahan, barulah saya duduk sebentar sambil terus menahan rasa sakit," kata Lupnatul dengan raut wajah sedih. 

Saat memasuki waktu salat magrib, Lupnatul pergi lagi ke kamar mandi. Ternyata pendarahannya belum juga selesai. Malah makin menjadi. Namun, wanita kelahiran 1999 itu tetap melanjutkan kiprah dalam proses penghitungan suara Pemilu 2019. Bahkan hingga pukul 05.00 WIB esok harinya.


"Begitu selesai, saya buru-buru pulang semoga sanggup segera istirahat. Tapi perut terasa makin sakit. Bahkan semakin menjadi dan menyerupai diaduk-aduk," kata wanita berjilbab itu.



Tak usang berselang, didampingi suami dan beberapa keluarganya, Lupnatul kemudian mendatangi bidan desa setempat. Hasilnya, janin berusia empat bulan yang ada dalam kandungannya telah keguguran. 

"Menurut bidannya, saya terlalu capek dan kelelahan. Dan itu kuat pada janin yang ada di kandungan. Apalagi, kandungan saya terbilang lemah katanya," imbuhnya.

Kini Lupnatul dan Fawaid memang harus menunda impiannya untuk segera menimang momongan. Pasangan yang gres menikah enam bulan ini mengaku tulus mendapatkan suratan.

"Jika tau bakal berdampak begini, tentu saya gak bakal ikut (jadi KPPS). Tapi ya mau gimana lagi, selain ikhlas. Mungkin memang belum waktunya, diberi tanggungjawab anak oleh Allah," pungkas Lupnatul.