Sejarah Busana

Sejarah Busana 

Busana berasal dari kata "bhusana" yang berarti pakaian . Busana merupakan segala sesuatu yang digunakan insan dari ujung rambut/kepala hingga ujung kaki. Pada zama pra sejarah insan belum mengenal busana/pakaian ibarat sekarang, dahulu insan mengenakan kulit binatang, tumbuh-tumbuhan untuk menutupi tubuh mereka.

Sebelum mengenal tenunan insan zaman dahulu mengenakan pakaian hanya di bagian-bagian tertentu saja , ibarat pada pecahan dada atau lingkar pinggang dan pecahan panggul hingga menutupi kemaluan. Bahan yang digunakan untuk menciptakan pakaianpun berasal dari lingkungan sekitar baik berupa kulit hewan , kulit batang maupun daun.

Kemajuan bentuk busana mengalami perkembangan yang cukup pesat. Dari penggunaan kulit kayu, kulit hewan maupun tumbuh-tumbuhan , insan balasannya menemukan tekhnologi pembuatan kain , yang pada awalnya masih sangat sederhana yaitu dengan memakai Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) adalah alat untuk melaksanakan penenunan yang di gerakan oleh manusia. ATBM sanggup dipergunakan sambil duduk (biasanya pada industri tekstil kecil dan tradisional). Namun pada industri tekstil besar alat ini mustahil digunakan .

Dalam perkembangan busana , dari bentuk maupun cara penggunaannya digolongkan menjadi bentuk dasar busana yaitu celemek panggul , ponco , tunika, kaftan , kutang , pakaian bungkus .

1. Celemek Panggul 


Celemek panggul ialah bentuk pakaian yang sangat sederhana yang dibuat dari sehelai kain panjang yang dililitkan satu atau beberapa kali pada tubuh pecahan bawah dari pinggang hingga panjang yang diinginkan. Pakaian ini biasanya disebut dengan pakaian bungkus. Dalam perkembanganya pakaian ini dikenal dengan sebutan kain panjang atau sarung.

2. Ponco


Ponco ialah model pakaian yang dibuat sat lembar dan hanya punya satu lubang ditengahnya biar kepala sanggup masuk dan sisi baju tidak di jahit.

3. Tunika


Tunika merupakan pengembangan bentuk dasar ponco . Dibuat dari kain segiempat, berukuran dua kali panjang antara pundak hingga mata kaki atau hingga batas panggul. Kain dilipat dua berdasarkan panjangnya , dengan lipatan disebelah atas. Pada pertengahan dibuat lubang leher dengan belahan pendek pada pecahan tengah muka. Sisi-sisinya dijahit dari bawah hingga +25cm sebelum lipatan. Bagian yang tidak dijahit digunakan untuk memasukan lengan.

4. Kaftan


 Kaftan merupakan perkembangan bentuk dasar tunika. sebab dibuat dari kain yang berbentuk segi empat.Bagian tengah muka dibuat belahan hingga bawah, hingga cara mengenakannya tidak perlu melalui kepala. Bentuk dasar busana ini di Indonesia dikenal dengan nama baju kebaya.

5. Kutang 

Kutang berarti tidak mempunyai belahan. Kutang ialah perkembangan dari busana bungkus yang sisinya disatukan. Contoh busana ini ialah kaos yang sering kita gunakan. Setiap busana pecahan atas yang tidak mempunyai belahan, bentuk dasarnya ialah kutang.

6. Busana Bungkus 

Bentuk pakaian bungkus merupakan pakaian yang berbentuk segi empat panjang yang digunakan dengan cara dililitkan atau dibungkus ke tubuh mulai dari dada, atau dari pinggang hingga panjang yang diinginkan ibarat celemek panggul. Pakaian bungkus ini tidak dijahit, walaupun pada ketika pakaian bungkus ini muncul jarum jahit sudah ada. Pemakaian pakaian bungkus ini dengan cara dililitkan ke tubuh ibarat yang ada di India yang dinamakan sari, toga dan palla di Roma, chiton dan peplos di zaman Yunani kuno, kain panjang dan selendang di Indonesia.

7. Celana

Celana muncul untuk melengkapi Kaftan. Celana berfungsi menututupi pecahan tubuh pecahan bawah. Awalnya celana terdiri dari kain berbentuk sarung atau rok yang kemudian dibuat menjadi celana dengan cara menarik pecahan tengahnya, hingga terciptalah banyak sekali model celana hingga sekaran